5 Alasan Mengapa Harus Berorganisasi

June 19, 2013 by LUTHFI MUHAMMAD H   Comments (1)

Artikel ini saya tujukan untuk para mahasiswa yang sedang berjuang dalam aktivitas di organisasinya, mereka yang akan menempuh jalan aktivis, para calon mahasiswa yang akan merenda kehidupan kampus dan sahabat-sahabatku yang tertarik dengan dunia organisasi.

 

Hidup mahasiswa!

 

Ya, pekikan itu yang pertama menggema dalam kehidupan mahasiswa saya. Kalau bicara soal aktivis wuih pasti berat ya. Karena saya juga baru 1 tahun makan bangku kampus dan sedikit sekali pengalaman organisasi. Tapi saya tergugah dengan 2 orang teman yang bertanya, “Kasih gue alasan kenapa harus masuk organisasi...” atau kurang lebih seperti itu lah. Menarik, sampai saya bisa-bisanya menulis prolog gak jelas seperti di atas. Saya jadi teringat buku berjudul Agar Ngampus Tak Sekadar Status yang ditulis oleh Robi’ah al-Adawiyah dan Hatta Syamsuddin. Buku itu membahas seperti apa dan harus seperti apa mahasiswa itu.

 

Oke, karena saya diminta kasih alasan, saya akan rangkum dari buku tersebut dan pengalaman saya yang secuil beberapa alasan utama mengapa kita harus berorganisasi. Baik itu saat kuliah atau tidak. Let’s check it out!

1.       Menambah teman, cari pengalaman, belajar berorganisasi, mengisi waktu

Ini jawaban paling banyak orang kalau ditanya mengapa memilih masuk dalam sebuah organisasi. Sekilas tidak ada yang salah. Tapi apa cuma itu saja? Kalau cuma segitu berarti biasa saja dong.

2.       Memberi sebanyak-banyaknya manfaat bagi orang lain

Nah, ini alasan yang benar-benar visioner. Mengapa? Bayangkan saja, orang dengan jawaban seperti ini sadar akan potensi-potensinya. Bahwa dalam diri tiap manusia ada raksasa tidur yang akan bermanfaat dengan melakukan aktivitas-aktivitas. Dengan memilih jalan organisasi, membuka pintu kita untuk tahu kekurangan dan kelebihan kita untuk selanjutnya kita optimalkan demi kebermanfaatan orang.

 

Karena saya tahu siapa saya dan saya tahu apa manfaat yang saya dapatkan. Jadi orang biasa sudah banyak! Saya ingin menjadi extra ordinary person yang bisa memberi manfaat untuk orang lain dan dengan beraktivitas, maka akan tergali potensi diri

 

Wah, dalam ya. Coba perhatikan lagi alasan-alasan di bawah.

 

3.       Aktif di kampus itu panggilan jiwa, mempertahankan idealisme

Saya merasakannya. Saat sedang lemah dan ingin berhenti berorganisasi, saya seolah terpanggil untuk terus berpartisipasi lagi dan lagi. Ada juga orang yang tetap di organisasi tersebut untuk memperjuangkan sesuatu yang dianggapnya benar. Nanti kita akan bahas masalah panggilan jiwa organisasi ini.

 

4.       Optimalisasi masa studi

Lama kuliah di UI maksimal 6 tahun. Ukuran normal seorang calon sarjana 4 tahun. Bayangkan jika dalam jangka waktu tersebut kita tidak melakukan apapun kecuali kuliah... ‘kunang-kunang’ dan ‘kupu-kupu’ akan bertebaran di mana-mana. Banyak teman saya seperti ini. Saya tidak mau mendebat. Saya hanya ingin menyampaikan perkataan orang bijak, “Barangsiapa tidak disibukkan oleh kebaikkan, maka dia akan disibukkan oleh keburukan.”

 

5.       Mengubah cara berpikir

Banyak yang merasa hidupnya berubah setelah banyak bergaul dengan orang-orang yang produktif dan bergabung dengan organisasi yang bermanfaat. Di antara mereka menyatakan cara berpikirnya berubah saat mengikuti beragam aktivitas kemahasiswaan. Hatinya tergerak untuk berperan dalam gerakan moral. Dan kepekaannya semakin terasah. Betapa banyak orang yang tidak beruntung bukan karena tidak bisa berorganisasi, tapi karena mereka tidak mau berorganisasi. Pahamilah sobat, pilihan apapun adalah pilihanmu! Anda bebas menentukan.

 

Hemm, serius banget ya. Memang, harusnya semangat Anda tergedor untuk bergerak sekarang juga menentukan organisasi mana yang terbaik buat Anda. Percaya deh, dimanapun Anda berkontribusi, Anda akan mendapatkan manfaat yang luar biasa banyak dibanding kontribusi yang Anda berikan.  



0/5 stars (0 votes)

Teruntuk Mahasiswa yang Tangannya Kotor Karena Tinta, Apa yang Sudah Kau Lakukan untuk Bangsamu?

June 19, 2013 by LUTHFI MUHAMMAD H   Comments (0)

Teruntuk mahasiswa Indonesia

yang tangannya kotor karena tinta

semoga tinta itu jadi saksi niat tulus kita memperbaiki bangsa



Tanggal 17 Agustus 1945 Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dibaca. Gaung teriakan merdeka dan gema takbir menggema. Tumpah kiranya seluruh asa dan rasa. Rakyat menikmati euforianya.


Tahun 1949 kita punya konstitusi; menandakan negara ini baru dibangun. Bapak-bapak Pendiri Bangsa boleh bingung karena sebelumnya Indonesia tidak punya nama, tidak punya pondasi, tidak punya jiwa namun punya beragam suku bangsa. Tahun itu pula kita mendirikan negara-bangsa yang didasari semangat persatuan dan dilandasi ruh kesamaan. Bhinneka Tunggal Ika. Pancasila. Undang-undang Dasar...


Tapi, akankah kita berbangga saat orang-orang tua sekeliling kita kini ditimpa kepapaan? Para pekerja diperas tenaganya untuk orang-orang asing dan manusia Indonesia dewasa yang bekerja untuk kepentingan mereka? Kaum muda belia rusak moralnya dan hilang akalnya? Anak-anak kecil disuruh meminta-minta dan dieksploitasi manusia-manusia bengis di sekitarnya?


Negeri ini indah...tapi itu dulu, Kawan. Lihat betapa banyaknya daerah-daerah hijau yang kini tandus, ladang-ladang yang dulu subur kini menjadi mall, rumah sakit dan klinik sangat mahal bagi kaum duafa, sekolah dan universitas jadi lahan bisnis, tanah dan lahan dieksplorasi untuk kepentingan asing, dan duit-duit rakyat malah masuk ke kantong wakil-wakilnya. Coba pikirkan Kawan, betapa Nusantara ini menangis melihat para penghuninya lebih bejat dari bule-bule yang menjajah kita. Apa yang bisa kita lakukan???


Jangan berkata, “Untuk apa mikirin bangsa, ngurus diri sendiri aja belum mampu”. Naif. Negeri ini adalah diri kita, bangsa ini milik kita. Hancur bangsa hancur pula diri kita. Akankah kita diam saja melihat segalanya rusak dan hancur tidak beraturan? Akankah kita membiarkan saja dan menganggap kebobrokan bangsa ini bukan karena kita? Lupakah kita akan kewajiban bela negara yang diajarkan semasa SD dahulu kala?


Sadarilah kawan, BANGSAMU MEMBUTUHKAN KAMU!


Jangan sekadar retorika...buktikan dengan aksi nyata. Apa yang bisa kita lakukan? Daripada menjerit-jerit kepada penguasa demi perubahan, lebih baik kita bergerak terlebih dahulu. Curahkan segalanya dalam secarik kertas. Tuliskan segala pikiranmu tentang bangsa ini. Ungkapkan gagasanmu untuk negara ini. Konkrit, Saudaraku...KONKRIT!


Bahkan para pahlawan kemerdekaan akan tersenyum melihatmu. Ruh-ruh mereka tak lagi bersedih karena melihat ada yang akan melanjutkan perjuangannya kelak. Lewat tulisanmu, Bapak-bapak Pendiri Bangsa mungkin akan menepuk pundakmu seakan bangga. Tunjukkan betapa ikhlas kau membantu mereka, betapa tulus kau membangun Indonesia.


Mahasiswa dan Pena

Ada yang bilang pemuda harapan bangsa. Pemuda terpelajar adalah mereka yang mampu mengubah dunia. Menjadi pemuda dengan titel “maha-siswa” amatlah prestise. Di tengah borok pendidikan Indonesia yang ditutupi kabut pencapaian statistik masyarakat yang telah mengenyam pendidikan wajib belajar. Kenyataannya, wajib belajar hanya dijadikan “ajang melepas kewajiban” sementara persoalan bangsa tidak kunjung terpecahkan.


Di tangan mahasiswalah senjata berupa pena dan toa digenggam. Mereka makhluk yang masih suci dari kotornya politik. Mereka manusia yang masih belia menatap kehidupan nyata. Namun idenya liar dan mampu menggoyahkan bumi. Kebersihan hatinya untuk menolong rakyat masih bening dibandingkan mereka yang sudah enak dengan “kursinya”.


Tapi lihat sekarang. Soal pena, jangan ditanya, tumpul setumpulnya. Plagiarisme masih menggelayuti masyarakat terpelajar kita. Sedih. Sudah diberi kesempatan mengenyam bangku kuliah masih tidak kreatif.


Sekali lagi, sadarlah BANGSAMU MEMBUTUHKAN KAMU!


Bangsamu membutuhkan insan-insan pemuda perubah. Mahasiswa-mahasiswa yang ditangannya segala ide brilian berubah menjadi emas. Bangsamu telah memberi banyak untukmu hai mahasiswa, kini saatnya kau memberi untuk bangsa. Lewat tanganmu yang kotor karena tinta... Lewat jemarimu yang menari dengan pena...


Jangan kau tanyakan berapa banyak bangsamu telah memberi untukmu, tapi tanyakanlah berapa banyak yang kau beri untuk bangsamu...


Berpikirlah, menulislah lalu buatlah sejarah...



0/5 stars (0 votes)