Teruntuk Mahasiswa yang Tangannya Kotor Karena Tinta, Apa yang Sudah Kau Lakukan untuk Bangsamu?

June 19, 2013 by LUTHFI MUHAMMAD H   Comments (0)

Teruntuk mahasiswa Indonesia

yang tangannya kotor karena tinta

semoga tinta itu jadi saksi niat tulus kita memperbaiki bangsa



Tanggal 17 Agustus 1945 Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dibaca. Gaung teriakan merdeka dan gema takbir menggema. Tumpah kiranya seluruh asa dan rasa. Rakyat menikmati euforianya.


Tahun 1949 kita punya konstitusi; menandakan negara ini baru dibangun. Bapak-bapak Pendiri Bangsa boleh bingung karena sebelumnya Indonesia tidak punya nama, tidak punya pondasi, tidak punya jiwa namun punya beragam suku bangsa. Tahun itu pula kita mendirikan negara-bangsa yang didasari semangat persatuan dan dilandasi ruh kesamaan. Bhinneka Tunggal Ika. Pancasila. Undang-undang Dasar...


Tapi, akankah kita berbangga saat orang-orang tua sekeliling kita kini ditimpa kepapaan? Para pekerja diperas tenaganya untuk orang-orang asing dan manusia Indonesia dewasa yang bekerja untuk kepentingan mereka? Kaum muda belia rusak moralnya dan hilang akalnya? Anak-anak kecil disuruh meminta-minta dan dieksploitasi manusia-manusia bengis di sekitarnya?


Negeri ini indah...tapi itu dulu, Kawan. Lihat betapa banyaknya daerah-daerah hijau yang kini tandus, ladang-ladang yang dulu subur kini menjadi mall, rumah sakit dan klinik sangat mahal bagi kaum duafa, sekolah dan universitas jadi lahan bisnis, tanah dan lahan dieksplorasi untuk kepentingan asing, dan duit-duit rakyat malah masuk ke kantong wakil-wakilnya. Coba pikirkan Kawan, betapa Nusantara ini menangis melihat para penghuninya lebih bejat dari bule-bule yang menjajah kita. Apa yang bisa kita lakukan???


Jangan berkata, “Untuk apa mikirin bangsa, ngurus diri sendiri aja belum mampu”. Naif. Negeri ini adalah diri kita, bangsa ini milik kita. Hancur bangsa hancur pula diri kita. Akankah kita diam saja melihat segalanya rusak dan hancur tidak beraturan? Akankah kita membiarkan saja dan menganggap kebobrokan bangsa ini bukan karena kita? Lupakah kita akan kewajiban bela negara yang diajarkan semasa SD dahulu kala?


Sadarilah kawan, BANGSAMU MEMBUTUHKAN KAMU!


Jangan sekadar retorika...buktikan dengan aksi nyata. Apa yang bisa kita lakukan? Daripada menjerit-jerit kepada penguasa demi perubahan, lebih baik kita bergerak terlebih dahulu. Curahkan segalanya dalam secarik kertas. Tuliskan segala pikiranmu tentang bangsa ini. Ungkapkan gagasanmu untuk negara ini. Konkrit, Saudaraku...KONKRIT!


Bahkan para pahlawan kemerdekaan akan tersenyum melihatmu. Ruh-ruh mereka tak lagi bersedih karena melihat ada yang akan melanjutkan perjuangannya kelak. Lewat tulisanmu, Bapak-bapak Pendiri Bangsa mungkin akan menepuk pundakmu seakan bangga. Tunjukkan betapa ikhlas kau membantu mereka, betapa tulus kau membangun Indonesia.


Mahasiswa dan Pena

Ada yang bilang pemuda harapan bangsa. Pemuda terpelajar adalah mereka yang mampu mengubah dunia. Menjadi pemuda dengan titel “maha-siswa” amatlah prestise. Di tengah borok pendidikan Indonesia yang ditutupi kabut pencapaian statistik masyarakat yang telah mengenyam pendidikan wajib belajar. Kenyataannya, wajib belajar hanya dijadikan “ajang melepas kewajiban” sementara persoalan bangsa tidak kunjung terpecahkan.


Di tangan mahasiswalah senjata berupa pena dan toa digenggam. Mereka makhluk yang masih suci dari kotornya politik. Mereka manusia yang masih belia menatap kehidupan nyata. Namun idenya liar dan mampu menggoyahkan bumi. Kebersihan hatinya untuk menolong rakyat masih bening dibandingkan mereka yang sudah enak dengan “kursinya”.


Tapi lihat sekarang. Soal pena, jangan ditanya, tumpul setumpulnya. Plagiarisme masih menggelayuti masyarakat terpelajar kita. Sedih. Sudah diberi kesempatan mengenyam bangku kuliah masih tidak kreatif.


Sekali lagi, sadarlah BANGSAMU MEMBUTUHKAN KAMU!


Bangsamu membutuhkan insan-insan pemuda perubah. Mahasiswa-mahasiswa yang ditangannya segala ide brilian berubah menjadi emas. Bangsamu telah memberi banyak untukmu hai mahasiswa, kini saatnya kau memberi untuk bangsa. Lewat tanganmu yang kotor karena tinta... Lewat jemarimu yang menari dengan pena...


Jangan kau tanyakan berapa banyak bangsamu telah memberi untukmu, tapi tanyakanlah berapa banyak yang kau beri untuk bangsamu...


Berpikirlah, menulislah lalu buatlah sejarah...



0/5 stars (0 votes)